Rabu, 26 Maret 2014

Cara The Rev Menginjak Pedal Dan Cara Melakukan Teknik Double Ride Dan Teknik Hi Hat



James Owen Sullivan lahir 9 Februari 1981 dan meninggal 28 Desember 2009 pada umur 28 tahun. lebih dikenal dengan nama The Rev atau The Reverend Tholomew Plague adalah seorang drummer sekaligus penyanyi latar untuk grup musik Avenged Sevenfold. The Rev juga menjadi lead vocal pada grup musik Pinkly Smooth. oke selanjutnya kita akan membahas tentang cara The Rev dalam melakukan permainan drumnya.

Cara melakukan Teknik Double Ride

The Rev bermain pedal memang sangat berbeda dengan semua para drummer krna kebanyakan drummer terbaik seperti : Joey Jordison, Mike Portnoy, Travis Baker, dan lain" . mereka pada saat menginjak pedal drum menggunakan kekuatan dari lulut dan pangkal paha dengan mengangkat tumit mereka sehingga terlihat paha juga naik turun.

Tetapi The Rev, Dia menggunakan pergelangan kaki dan bagian mata kaki sebagai tumpuannya, karena pergerakan pangkal paha dan pergelangan kaki lebih cepat bolak - balik pergelangan kaki yang hanya menempuh 3 - 5 cm setiap gerakan kakinya. dan tidak banyak menghabiskan energi, dan secara maksimal kaki bisa lebih cepat dalam menginjak pedal.

pada lagu Almost Easy, The Rev hanya menggunakan 2 pedal drum, untuk double ride. permainan double ride yang dilakukan secara terus menerus tanpa hentinya dengan tempo yang sangat cepat dengan waktu tertentu. dan juga tanganya memilki teknik yang cepat tarikan maksudnya cepat untuk berpindah - pindah jadi kalai bermain secara serentak bermain dan itu tidak susah bagi The Rev.

Cara melakukan Teknik Hi hat
Hi hat memberikan suara perkusi yang terdengar pendek dan renyah ketika dipukul closed hi hat atau dimainkan dengan pedal, terdengar seperti dan disebut sebagai "chick". Mengatur celah antara cymbal dapat mengubah suara open hi hat nada yang lebih berkelanjutan (sustain note) dengan sesuatu yang mirip dengan cymbal ride. Ketika dipukul dengan drumstick, maka cymbal membuat baik suara pendek dan tajam atau mempertahankan suara “shimmering“ lebih lama tergantung pada posisi pedal.

Hi hat juga dapat dimainkan hanya dengan mengangkat dan menurunkan kaki untuk membentrokan cymbal bersama-sama, gaya yang umum digunakan dengan aksen ketukan 2 dan 4 dalam musik jazz. Dalam musik rock, hi-hat biasanya dimainkan setiap atau pada ketukan 1 dan 3, sedangkan cymbal dipukul bersama-sama.

Drummer bisa mengontrol suara dengan tekanan kaki. Tekanan yang kurang memungkinkan cymbal dengan menggosok bersama lebih bebas, memberikan baik sustain lebih besar dan volume yang lebih besar untuk aksen atau crescendo.

Dalam waktu shuffle, irama yang dikenal sebagai "cooking" sering digunakan. Untuk menghasilkan ini cymbal dipukul dua kali berturut-turut yang cepat, yang diadakan closed pada stroke pertama dan diizinkan untuk open tepat sebelum kedua, tidak dibiarkan berdering sebelum closed dengan chick untuk melengkapi pola (cymbal mungkin atau mungkin tidak dipukul pada chick tersebut).

Seorang drummer biasanya akan memainkan hi hat pedal dengan kaki kirinya, dan dapat menggunakan salah satu atau kedua drumstik. Hi-hat tradisional rhythms rock dan jazz diproduksi dengan menyilangkan tangan di atas, sehingga stick kanan akan memainkan hi hat sementara sebelah kiri memainkan snare drum di bawahnya, tapi ini tidak universal.

Beberapa drummer modern atas seperti Billy Cobham, Carter Beauford, dan Simon Phillips tidak menyilangkan tangan mereka di atas sama sekali, memainkan hi hat di sebelah kiri dengan drumstick kiri daripada sebelah kanan. Ini disebut bermain tangan terbuka (open handed). Beberapa drum set juga mungkin mencakup tambahan hi hat di sebelah kanan untuk drummer tangan kanan, di mana ia akan bermain menyeberang. Hal ini ditunjukkan ketika drum atau cymbal di tengah diatur dimainkan dengan irama hi hat.

Teknik ini sama dengan genre metal seperti Lars Ulrich dari Metallica dan Mike Portnoy dari Dream Theater. Dalam kedua rock dan jazz, sering drummer akan memindahkan pola stick yang sama antara cymbal hi hat dan cymbal ride, misalnya dengan menggunakan hi hat dalam verse dan ride dalam chorus lagu, atau menggunakan ride untuk mengiringi jeda lead atau instrumental solo lainnya.

Roger Taylor, drummer band Queen, bermain dengan banyak teknik hi hat yang unik, termasuk membuka paksa dari hi hat pada setiap backbeat untuk penekanan irama dan meninggalkan hi hat sedikit terbuka (open handed) ketika memukul snare. Trademark nya adalah membuka hi hat pada ketukan pertama dan ketiga sebelum memukul snare.

Phil Rudd AC / DC juga penggunaan teknik hi hat yang berbeda, yang termasuk sangat berat mengutamakan memukul hi hat pada beat masing-masing dan lembut di antaranya.

Charlie Watts dari The Rolling Stones menggunakan teknik di mana ia tidak memainkan hi hat berbarengan dengan snare drum sama sekali. Jika memainkan pola standar not 8, dia akan memainkan hi hat pada 1 dan 3 dan tidak bermain di 2 dan 4, di mana snare drum dimainkan. Teknik ini juga digunakan oleh Levon Helm dan Jim Keltner tapi tidak sesering Watts menggunakan itu.

Mereka yang memainkan double bass drum juga telah mengembangkan teknik-teknik khusus untuk menggunakan hi-hat.

Bagi yang belum tahu cara memegang stick Drum, saya akan memberitahu anda. Ada 2 cara memegang Stick Drum :

 1. Matched grip
Tangan tertutup dimana pukulan sangat mengandalkan lengan dan pergelangan tangan sehingga pukulan menjadi kaku dan tangan cepat lelah, kecepatannya pun sangat terbatas. Jenis inipun bisa divariasikan sehingga tangan agak terbuka

2. Traditional grip
Perbedaan grip ini adalah pada tangan kiri, dimana stick dijepitkan di ibu jari dan ditaruh diantara jari tengah dan jari manis. Ibu jari yang berperan untuk mendorong stick. Sedangkan untuk tangan kanan cara memegangnya tidak ada perbedaan, seperti matched grip saja Traditional grip memang lebih sulit untuk dilakukan ketimbang matched grip karena mengontrol tangan kiri jauh lebih rumit.

Sebenarnya traditional grip lebih diperlukan untuk keperluan drummer marching band.

Tahun 1840 drumset baru ditemukan (snare, bass dan tom-tom) dimana tiga drum dimainkan dengan satu orang. Karena traditional grip merupakan kebiasaan turun-temurun yang berawal dari marching, maka traditional grip digunakan juga pada drumset. Kemudian lagi-lagi kebiasaan ini berlanjut dengan akhirnya pada pertengahan tahun 1960, Ringo Starr (drummer The Beatles) mengambil langkah maju dengan memegang stick pada posisi yang sama (tangan kiri sama seperti tangan kanan), sehingga seperti orang yang memegang dua buah palu. Yang kemudian dinamakan matched grip. Ternyata dengan menggunakan matched grip maka dengan mudah pemain drum dapat mengeluarkan power/tenaga yang diinginkan dan juga pukulan pada tangan kirinya menjadi lebih akurat.

Dan akhirnya keduanya pun dapat digunakan sesuai dengan aliran lagu dan selera pemain drum, untuk lagu yang lembut dan memerlukansentuhan, maka traditional griplah yang ‘bebicara’, sedangkan untuk memainkan groove/beat yang solid dan lagu yang lebih modern (rock), matched grip yang paling cocok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar